Kamis, 26 Mei 2011

In memoriam: Ustadzah Yoyoh Yusroh



Masih segar dalam ingatan, kematian salah seorang tokoh muslimah kebanggaan Indonesia, ustadzah Yoyoh Yusroh beberapa hari silam. Bagi mereka yang dekat dan mengenal beliau, kematiannya menorehkan kesedihan sekaligus banyak pelajaran berharga.

Bagi yang mengenalnya justru setelah kematiannya, jenazahnya yang sedang tersenyum cukuplah untuk menggambarkan bahwa beliau adalah sosok yang teramat istimewa.

Dari kesaksian-kesaksian baik yang diungkap beberapa sahabat, kesan-kesan indah dari seseorang yang bahkan baru bertemu beliau dalam hitungan menit, terlukis jelas bahwa beliau sosok yang ramah, bersahabat dan penuh empati. Seorang wartawan yang akan mewawancarai beliau di pagi hari, malah ditawari sarapan pagi karena yakin bahwa wartawan itu pastilah belum sempat sarapan. (dikutip dari http://twitter.com/ridlwanjogja)

Sebagai anggota dewan, dengan mudah kita bisa menemukan beberapa kesaksian-kesaksian baik dari rekan sesama politisi. “Bu Yoyoh adalah sosok yang sangat bersahaja, mudah bergaul, dan kerap memberikan motivasi pada fraksi lain” Ruhut Sitompul. “Cerdas, santun, dan rendah hati, sederhana dan bersahaja” Tantowi Yahya (Republika online)
Menurut Tantowi tidak ada sifat–sifat sirik dan benci yang biasa dimiliki oleh seorang politisi terhadap temannya dalam satu komisi. “Bagi bu Yoyoh, tidak ada kompetisi dalam teman sesama anggota satu komisi.”

Penulis Pipiet Senja menulis dalam Kompasiana: “Sosok ini sungguh perempuan pilihan, karena tak pernah mengatakan lelah kepada siapapun yang ingin curhatan, konsultasi. Ya, bahkan dalam kesibukan maha pun dia selalu menyediakan waktu bagi jamaah taklimnya. Patutlah disayangi ummat, karena telah banyak waktu dan pikirannya yang tercurah untuk sesamanya. Bagiku, dia satu-satunya perempuan hebat, sudah kaya raya, berilmu tinggi, tetapi tetaplah bersahaja dan rendah hati, setiap waktu jika dimintai bantuan secepatnya mengulurkan tangan.” (http://sosbud.kompasiana.com/2011/05/22/perempuan-pilihan-itu-telah-pergi-selamat-jalan-saudariku-yoyoh-yusroh/)

Dan masih banyak lagi cerita-cerita kegigihan, semangat juang, keistiqomahan beliau, dari lisan para sahabat muslimah yang tertulis maupun yang tidak. Bahkan beberapa hari setelah beliau berpulang, di majelis-majelis ilmu, melalui lisan para murobbiyah, sosok beliau masih dikenang-kenang. Wanita muslimah ini sungguh harum namanya. Sosok yang sungguh sangat pantas dijadikan tauladan kesholihan seorang wanita.

KH Hilmi Aminuddin ketika menyampaikan takziyah di rumah duka “Saya dapat ucapan takziah dari seluruh dunia. Dari jalur Gaza, mujahidin Palestina semua berdoa utk almarhumah. Kehilangan Yoyoh adalah kehilangan bagi dakwah internasional. Pasukan perdamaian TNI di Darfur Sudan juga kirim takziah. “

“Yoyoh berhasil membawa bantuan masy Indonesia ke jalur Gaza. Membantu buat rumah sakit di Gaza dan lobi perdamaian Sudan.”

Inilah contoh akhlakul karimah. “Inilah akhwat prestatif jaman ini, patut diteladani. Kehadirannya menggenapkan, kehilangannya mengganjilkan, keberadaannya menebar manfaat, inspirasi, dan menggerakkan, demikian pula kepergiannya tetap menjadi hikmah kemanfaatan dan inspirasi bagi orang2 yang mencintai kebaikan, dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Dihormati bahkan oleh orang yang berbeda keyakinan, benar-benar penebar rahmat” (blog ibu Didin Kristinawati: http://www.ruangmuslim.com/tafakur/4532-mengenang-ustzh-yoyoh-yusroh-bagaimana-kita-akan-diingat-nanti.html)

Kesaksian-kesaksian baik dari orang yang telah berpulang adalah penegas kedudukannya di akhirat kelak.
Diriwayatkan dari Anas (bin malik) : (iringan orang yang mengantar) jenazah lewat dan orang-orang memujinya. Nabi Muhammad Saw bersabda, “ucapan itu telah menguatkan (wajabat) dia”. Kemudian (iringan orang yang mengantar) jenazah lainnya lewat dan orang-orang memburukkannya. Nabi Muhammad Saw bersabda, “ucapan itu telah menguatkan (wajabat) dia”. Umar bin Al Khattab ra. Bertanya kepada Rasulullah Saw, “apa maksud anda menguatkan (wajabat) dia?”. Nabi Muhammad Saw bersabda, “kamu telah memuji orang ini maka surga ditegaskan untuknya; dan kamu memburukkan yang lainnya, maka neraka telah ditegaskan untuknya. Kamu semua adalah saksi Allah di muka bumi”.

Diriwayatkan dari Umar ra. : Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “apabila ada empat orang bersaksi terhadap kebaikan (kesalehan) seorang muslim, maka Allah akan menganugerahkan surga”, kami bertanya,”bagaimana jika tiga orang?” Nabi Muhammad Saw menjawab, “bahkan tiga orang”. Kemudian kami bertanya, “bagaimana jika dua orang”. Nabi Muhammad Saw menjawab, “bahkan dua orang”. Kami tidak bertanya bagaimana jika satu orang yang bersaksi.

Ibu, dengan segala kerendahan hati aku merangkum tulisan sederhana tentangmu. Sungguh jarang aku menyaksikan kematian seorang wanita yang cerita-cerita sesudah kepergiannya adalah padat dan mulia. Hamparan kisah hidupmu di dunia, bagaimana Alloh menutupmu dengan kematian, dan kesaksian-kesaksian setelah engkau pergi, sungguh menjadi cambuk untukku pribadi. Akan dibawa kemana jasad ini, akan seperti apa mengisi hidup? How do I want to be remembered?

Terima kasih bu Yoyoh. Semoga Alloh hadiahkan kepadamu jannatul firdaus, dan Alloh kumpulkan engkau dengan orang-orang sholeh seperti isi sms terakhirmu : “Ya Robb aku sedang memikirkan posisiku kelak di Akhirat. Mungkinkah aku berdampingan dengan penghulu para wanita, Khadijah Al Qubro yang berjuang dengan harta dan jiwanya? Atau dengan Hafshah yang dibela Allah saat akan dicerai karena Showwamah dan qowwahmahnya? Atau dengan Aisyah yang telah hafal 3500-an hadits, sedang aku… ehm, 500 juga belum. Atau dengan Ummu Sulaim yang shobirah. Atau dengan Asma yang mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dari jihad. Atau dengan siapa ya Allah? Tolong beri kekuatan untuk mengejar amaliyah mereka sehingga aku laik bertemu mereka bahkan bisa berbincang dengan mereka di Taman FirdausMu”.

Amiin allahumma aminn..

Pak Hasan Firdaus: sebuah kesan (sangat) sederhana


Balikpapan menyimpan banyak permata ilmu. Aku mengenal beberapa permata penggiat dakwah yang juga sangat kukagumi. Salah satu diantaranya bernama ustadz Hasan Heru Firdaus. Pertama kali mendengar tausyiah beliau, aku sudah merasa bahwa bapak ini istimewa. Waktu itu beliau membawakan tema Gurita Yahudi di musholla Ulil Albab Pupuk. Kemudian berturut-turut aku mengikuti tausyiah beliau baik live di mesjid Istiqomah, mesjid Jabalussalam, maupun via radio.

Bapak dengan 6 orang anak ini sederhana dalam penampilan namun tidak dalam hal ilmu. Beliau adalah seorang ustadz yang intelek dan berwawasan luas. Kegemarannya membaca dan menambah ilmu lewat internet membuat kajiannya kaya raya dan berbobot.
Melihat beliau aku jadi ingat slogan yang didengung-dengungkan salah satu pesantren advance di Indonesia. Yaitu Pondok Pesantren Modern Gontor. Slogan mereka kepada para santri adalah : janganlah menjadi intelek yang tahu agama, jadilah ulama yang intelek.

Pak Hasan bagiku merepresentasikan slogan ini. Bukan karena dulu beliau pernah bekerja di Schlumberger dan memutuskan berhenti karena tak bisa dakwah, bukan pula karena gaya dakwahnya dengan laptop dan in focus, namun aura intelektualitas yang tentu saja tidak tumbuh serta-merta. Melainkan akumulasi dari pengalaman, jam terbang, ikhtiar pencarian ilmu, dan doa yang membuat beliau sangat powerful dalam tiap-tiap dakwahnya.

Ketika umroh tanggal 4 April 2011 kemarin, Alloh menakdirkan pak Hasan menjadi pembimbing kami. Beliau adalah ustadz yang ramah, bertanggung jawab dan “menaungi” kami semua. Dari awal perjalanan, beliau dengan stamina prima ikut turun tangan mengurusi masalah administrasi perjalanan dan lain-lain.

Pun ketika ritual inti umroh berlangsung, beliau senantiasa mendampingi kami dengan baik. Memastikan kami yakin dengan semua doa-doa kami. Berkenaan dengan banyaknya doa-doa yang sepertinya harus dihapalkan, beliau meyakinkan kami bahwa terdapat perbedaan antara membaca doa dan berdoa dengan kesungguhan hati. Maka saran beliau, hendaklah kami berdoa dengan sungguh-sungguh sesuai kebutuhan.
Di akhir perjalanan beliau doakan kami agar bisa menginjakkan kaki kembali di tanah suci, bersama keluarga masing-masing.

Aku sedang berpikir..untuk seseorang yang Alloh takdirkan ia menginjakkan kaki tiap bulan ke tanah suci pastilah orang yang istimewa. Alloh maha mengetahui isi hati tiap-tiap jiwa, dan Ia Maha Tahu marifatullah tiap-tiap insan. Maka Pak Hasan adalah cinta yang berbalas dari RabbNya, sehingga ditakdirkannya beliau untuk tiap bulan mengunjungi baitullah..such a lucky man^^

Jumat, 20 Mei 2011

Umroh



Satu bulan enam belas hari berlalu dan masih saja terbayang-bayang kenikmatan menapakkan kaki di dua kota itu. Kota-kota yang menjadi latar dari rangkaian sejarah dan riwayat suci para nabi-nabi. Kota-kota yang menjadi saksi peradaban umat kali pertama dibangun. Saksi dari perjuangan para nabi menyampaikan cahaya kebenaran. Berdakwah dengan jiwa, darah dan air mata. Di sana silih berganti jihad, perang, damai, kehilangan, kelahiran terjadi. Membentang sejarah jahiliyah hingga cahaya datang.

Kota-kota ini yang tadinya hanya aku baca dari buku-buku dan kitab-kitab terjemahan yang terhambur di rak buku mengantri untuk ku lumat. Kota-kota ini yang aku sebut dalam doa-doaku yang di atas kertas baru akan aku kunjungi sepuluh tahun mendatang. Maka betapa tidak dapat kujelaskan dengan kata-kata ketika aku sudah tiba di sana. Pada saat itu hanya ada satu kata yang memenuhi hati, yaitu SYUKUR yang tak terhingga-hingga, tak terbilang-bilang. Bagaimana mungkin tidak bersyukur? Rinduku sudah di ubun-ubun dan Ia memenuhi kerinduanku dengan mempersilahkan aku datang ke rumahNya bertahun-tahun lebih awal ?! Subhanalloh! :))

Maka detik ini, masih teringat kerapian dan keramah tamahan Madinah. Suasana jalanan menjelang adzan, hiruk pikuk orang-orang tergesa-gesa melangkah menjinjing gamis untuk memperoleh langkahan kaki yang lebih lebar. Para keluarga dengan anak-anak balitanya, digandeng atau dibopong di bahu sang ayah. Betapa indahnya. Semua menuju sebuah mesjid indah bersejarah. Mesjid Nabawi. Kecantikannya dari jauh sudah memukauku. Kilauan kubahnya, payung-payung raksasanya yang indah dan tersohor, lantainya yang menyilaukan memantulkan kecerahan langit di atasnya.

Dari kejauhan, tatapan mataku telah lekat-lekat memandangnya tak sabar ingin segera tiba. Terlebih lagi menyadari bahwa di sana terbujur jasad suci seorang pemberi peringatan yang mulia, yang tersayang nabiullah Muhammad SAW, di sana juga terdapat taman-taman surga yaitu sebuah space antara rumah dan mimbar beliau. “Tempat antara mimbarku dan rumahku adalah satu taman dari taman-taman surga. Dan mimbarku berada di atas telagaku.” (HR. Al-Bukhari no. 1888 dan Muslim no. 1391).

Setengah berlari aku juga teringat potongan-potongan hadist yang pernah kubaca di rumah. “Shalat di masjidku ini lebih baik daripada 1000 shalat di tempat lain, kecuali di Masjid Al-Haram.” (HR. Muslim no. 1394, dan ini:

“Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nawabi), Masjid Al-Haram (di Makkah), dan Masjid Al Aqsha.” (HR. Al-Bukhari no. 1115 dan Muslim no. 1397). Maka alasan apa yang membuatku untuk tidak tersenyum lebar dan bersegera?

Sepanjang jalan ditemani kepakan sayap burung merpati yang terawat terbang bebas menyapa ramah para pejalan kaki. Di kanan kiri beberapa orang menjajakan dagangan, kaos kaki, parfum, sandal, sepatu, al quran, gamis kualitas no 10 yang dikibas-kibas penjualnya tinggi-tinggi di angkasa, naik ke atas kursi demi untuk menarik hati para jamaah. "Halal! Halal! Ya Hajj ya hajj sapulu real sapulu real" :))))
Bersaing-saing harganya satu sama lain. Tapi ada satu kesamaannya, semuanya serba hitam:D

Tiba di pintu masuk, pemandangannya adalah jemaah wanita yang berjubel dan para askar yang tak mampu membendung derasnya keantusiasan para jemaah menyerbu masuk. Teriakan demi teriakan menenangkan bercampur dengan dorongan-dorongan yang tak mau tahu. “Sabar ya Hajj, Sabar! Sabar! Masya Alloh! Masya Alloh! Dan beberapa kalimat menggerutu penuh emosi.:D
Sesuatu yang tak pernah kulihat di mesjid manapun di Balikpapan:)

Dan ternyata oh ternyata, padatnya makhluk hidup bernama manusia tak hanya sampai di Madinah saja. Di Makkah pun tak kalah padat merayap. Sampai-sampai kau pun harus mendongakkan kepalamu ke atas untuk meraup sebanyak-banyak udara sebagai bekal untuk kembali menerobos masuk! Oh! Tak heran apabila haji dan umroh disebut sebagai ibadah fisik.

Namun suasana di Makkah agak berbeda. Suasana keteraturan dan kerapian Madinah tak kutemukan di Makkah. Apabila Madinah memisahkan ikhwan dan akhwat dari awal masuk mesjid, maka tidak begitu situasinya di Makkah. Mereka berbaur menjadi satu, masuk dan keluar di pintu yang sama, maka ini agak merisaukan karena harus bercampur-baur berjejal-jejal seperti ini. Tapi perjuangan menerobos masuk akan terbayar CASH seiring langkah semakin mendekat ke Baitullah, Kabah.

Dan rutinitas paling menakjubkan setelah itu dan hari-hari berikutnya adalah mengambil start awal di lampu hijau, tentu saja berniat, tawaf, sholat di belakang maqom Ibrahim, minum air zam-zam, sai, dan tahalul. Hmm nikmatnyaaa:D Tak heran, seorang ustadz favoritku, ustadz Hasan Firdaus, pada manasik umroh, dalam sebuah slidenya, mengutip perkataan salafush sholeh "Tiada perjalanan yang lebih BERPENGARUH terhadap DAGING, DARAH, KULIT, dan RAMBUT seseorang daripada PERJALANAN MENUJU MEKKAH, dan tak seorang pun berhasil mencapainya kevuali dengan kesulitan" :)

Oh! tak kan habis berparagraf –paragraf kalimat aku tuangkan untuk menggambarkan betapa berkesannya ibadah umroh ku kemarin. Dengan nikmat sebesar itu maka masalah-masalah yang mengiringinya menjadi seperti tak termaknai. Seperti roommate yang too much talking, sandal yang hilang, bibir yang pecah-pecah, oh rugi jika harus dipermasalahkan. Kenapa tidak menganggapnya sebagai bumbu-bumbu perjalanan saja:))

Sekarang, aku hanya berharap Dia sudi mengijinkanku berkunjung lagi. Tentu saja bersama keluarga kecilku. Semoga. Amiinn…

counting days:(


Malam ini ijinkan aku menulis lagi sesuatu tentang dia, seorang wanita yang semulia namanya. Wanita yang kepadanya aku berhutang banyak. Begitu banyaknya sampai aku tak yakin dengan materi sebanyak apa ku bisa membalas. Wanita ini mengenalkanku kepada Islam. Sesuatu yang tadinya sangat jauh. Ia menarikku lebih dekat kepada Allah. MengenalNya dengan mentadabburi ayat-ayatNya, mengkaji surah-surahNya. Mengartikan kata per kata dan memahami kandunganNya. Menurutku adalah sebaik-baik ilmu yang pernah seseorang ajarkan kepadaku. Bahkan mungkin ia sendiri tak kan pernah tahu betapa besar arti dirinya kepadaku. Wanita ini menemaniku menjemput hidayah Allah, sehingga aku sendiri tanpa bermaksud berpuas diri, dengan ijin Alloh, merasa jauh lebih baik dari aku yang dulu. Maka sekali lagi, dengan apa aku bisa membalas??

Ketika kenyamanan mulai mengguliri majelis kami, tiba-tiba Alloh menakdirkan beliau pindah dari kota ini, maka alasan apa yang membuatku tidak sedih. Kepergiannya membuatku sadar betapa kebersamaan yang bertahun-tahun kami jalin sangat berharga. Apabila ku tahu bahwa kebersamaan akan secepat ini, maka tak satu menit pun kan ku sia-sia untuk mendengar tumpahan kebaikan keluar dari lisannya.

Tapi kuingat pada suatu ketika ia seperti menenangkanku bahwa Alloh pasti akan menyiapkan pengganti yang lebih hebat dari dia. Begitu katany seolah tahu apa yang aku pikirkan. Ia selipkan juga pesan agar kami melestarikan majelis ini dan tidak membalikkan badan menjauh.

Maka sepeninggalnya kelak, adalah tugas kami membangun keistiqomahan menjemput hikmah-hikmah kembali. Walau hati masih gamang namun tekad untuk berjuang harus dikibar-kibarkan. Bukankah tidaklah ilmu yang pergi tetapi hanya lisan penyampainya saja? Maka baiklah Ibu, mari saling mendoakan. Engkau di kotamu yang baru, memperlebar sayap dakwah, meraup jiwa-jiwa baru yang dahaga akan hidayah, dan kami disini meneruskan perjuangan membenahi diri dan menebar manfaat untuk keluarga dan umat. We love you always..

Kamis 19 Mei 2011

Senin, 02 Agustus 2010

After reading Ibnu Qayyim Al Jauziyah


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu

Assalamualaikum ahladdayari minal mukminina walmuslimina wainna insya Allah laaquwna wayarhamullahul mustaqdimiiyna minna walmusta’khiriiyna as alullaaha lanaa walakumul aa fiyah..
“Salam sejahtera atas kalian wahai para penghuni kubur dari orang-orang Mukmin dan Muslim, sesungguhnya atas kehendak Allah kami akan bersua dengan kalian. Semoga Allah merahmati orang-orang yang lebih dahulu meninggal daripada kami dan kalian serta yang lebih akhir. Kami memohon afiat kepada Allah bagi kami dan bagi kalian..”

Papa tersayang,
Sejak aku tahu bahwa ruh bisa mendengar kita hanya saja tidak mampu menjawab, aku memutuskan untuk menulis surat ini buat papa. Semoga Allah ijinkan ruh papa untuk mendengar ini semua.

Papa tersayang,
Bersama surat ini aku mau menyampaikan beberapa hal yang tidak sempat atau jarang aku ucapkan pada papa semasa papa hidup.

Papa tersayang,
Aku menyayangi papa karena Allah, aku mencintai papa karena Allah, aku meminta ridho papa dunia akhirat, aku meminta maaf atas semua perkataanku yang mungkin pernah melukai hati papa, aku meminta maaf atas semua tingkah lakuku yang pernah mengecewakan papa.

Papa tersayang,
Semoga Allah Ar Rahman Ar Rahim memberi papa kebaikan, kebahagiaan, dan kasih sayang yang lebih besar dari yang pernah papa dapatkan di dunia. Semoga Allah menempatkan ruh papa di sisiNya yang paling mulia.
Kami semua akan menyusul papa. Semoga kita semua bisa berkumpul di jannahnya Allah. Sembari menunggu masa itu tiba insya Allah kami di sini akan selalu mendoakan papa, dan melakukan amal sholeh. Semoga kebaikan-kebaikan dan pahala-pahalanya bisa papa rasakan di sana. Amin

Untuk semua muslimin dan muslimah yang ada di sini yang sudah mendahului aku di perkuburan ini, aku ucapkan seperti yang tertulis di buku Ruh karangan Ibnu Qayyim:
Semoga Allah mendengar ketakutan kalian, merahmati keterasingan kalian, mengampuni keburukan kalian dan menerima kebaikan kalian. Amin

Jumat, perkuburan muslim Pupuk

Kangen Papaku

Aku rindu memandang teduh matamu, memandang sejuknya senyummu. Aku rindu mendengar suaramu, menyimakmu bercerita tentang masa lalumu, yang selalu kau ulang-ulang. Papa aku rindu menyentuh kulitmu, menyalami tangan kasarmu, menciumnya dengan pipiku, dengan bibirku. Kedua tanganmu yang membesarkanku dengan kasih sayang tak bernilai. Papa aku rindu memeluk tubuhmu yang besar dan kokoh, sampai-sampai aku lupa bahwa kau memang sudah renta. Betapa sehatnya engkau, papa. Betapa masih gagahnya engkau ketika pergi. Papa aku rindu memandangmu berjalan, mendekat ke arahku. Cara berjalanmu yang seperti menuruni bukit, cepat dengan wajah menunduk ke bawah. Seperti cara berjalan nabi Muhammad..

Papa,
Rindu ini tak kusangka akan sangat menyesakkan dada. Semua persiapan mental dan spiritual yang sudah aku tata ketika kau masih hidup seperti tak berguna. Melihat rambutmu yang sudah memutih dulu, mencuri pandang ke kulitmu yang memang sudah keriput menua, aku menata hati untuk siap kehilanganmu. Tapi kini, ketika masa itu telah tiba, aku hanya tak menyangka akan sesedih ini. Papa, aku cuma rindu padamu, itu saja. Aku rindu semua tentangmu.

Papa,
rindu ini bukan tidak ikhlas. Aku percaya Allah lebih mencintaimu daripada kami seisi rumah. Tapi rindu itu manusiawi papa. Rindu yang tidak gampang hilang. Aku berharap akan bertemu lagi denganmu di sebuah tempat yang lebih baik. Aku akan memeluk tubuhmu yang besar itu. Aku akan mencium pipimu, mengutarakan hal-hal yang belum sempat aku utarakan di dunia. Semoga tempat itu adalah surgaNya. Amiinn..

Papa,
Aku menyayangimu karena Allah..

Di kamar tempat ia dijemput,
27 July 2010

2 Agustus 2010


Hari ini sebulan yang lalu, ingatanku tentang proses kepergian papa seperti potongan-potongan slide yang terus berulang. Bahkan hingga saat ini, setelah hari berjalan 30 langkah. Setiap kali ingatan itu muncul, air mataku selalu mengalir tidak terbendung. Kesedihan ini menyesakkan dada dan aku selalu meyakinkan diri bahwa itu bukannya tidak ikhlas. Slide itu termasuk ketika papa berjuang meraup oksigen sebanyak-banyaknya, berusaha mengatur nafas mati-matian. Oh, begitu rupanya rasanya ketika maut menjemput. Namun aku merasa papa sangat bersahabat dengan malaikat maut. Aku merasa mereka menjemput papa dengan sangat lembut dan berhati-hati, seakan tidak ingin orang tua yang baik itu tersakiti. Betapa tenangnya ia ketika pergi. Di tengah istri tercinta dan dua anak yang menyayanginya, yang terus menuntunnya dengan zikir dan kalimah tauhid.

Skenario Allah begitu indah. Mereka berdua datang mengunjungiku, ingin mendampingi aku menjemput anak keduaku yang akan segera lahir. Ketika aku selesai bersalin aku mencium tangan mereka, papa juga. Dia tersenyum sejuk seperti biasa. Aku menangis mengingat betapa aku adalah anak yang mengecewakan. Namun pada akhirnya di tengah-tengah kesedihan ini aku merasa sangat bersyukur. Allah mengambil papa pada saat papa berada di rumahku, dekat dengan ku. Bisa aku dampingi. Ini adalah sesuatu yang aku doakan dan menakjubkannya, Dia mengabulkan itu. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Aku juga masih takjub dengan dekatnya kuburan papa dengan rumahku. Ini memungkinkanku mengunjunginya sesering mungkin. Sekali lagi aku sangat bersyukur kepada Allah.

Memandang mama sekarang, seorang diri, ia tidak akan kemana-mana lagi. Ia akan tetap di sini, bersamaku anaknya, dan cucu-cucunya.

Untuk mama, aku berdoa kepada Allah hal yang sama. Aku merasa tersanjung karena Allah mempercayakan aku merawat mama. Allah mempercayakan aku berbakti kepadanya di sisa umurku. Aku juga tersanjung karena Allah memilih rumahku ketika menjemput papa. Malaikat maut telah bertamu ke rumah ini. Rumah ini telah ditakdirkan menjadi lebih bersejarah dari yang aku duga. Cerita di dalamnya lebih kaya dan dalam. Kepergian papa adalah puncaknya. Di tiap sudutnya sekarang tertoreh sejarah. Di kamar depan ruang dimana papa “pergi”. Di belakang tempat papa mandi untuk terakhir kalinya. Di depan tv ini rupanya ditakdirkan sebagai tempat papa disemayamkan.

Ketika proses aqiqah anak keduaku, Papa menyaksikan dalam tidur panjangnya. Subhanallah, maha suci Allah. Kelahiran dan kematian menjadi terasa begitu dekat hari itu. Aku menggendong bayiku dan berdoa di depan jenazah papa yang disemayamkan di depan tv. Merasakan sedih dan senang di detik yang sama walaupun sejujurnya rasa sedihnya lebih mendominasi. Aku hanya akan berkata bahwa Allah adalah Maha Besar dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah memberiku pelajaran besar dengan peristiwa ini. Aku sudah bukan orang yang sama lagi, dengan tekad baru.

Terima kasih ya Allah. Aku akan berusaha menata kesedihan ini. Aku ridho dengan keputusanMu namun tak bisa dipungkiri bahwa kenangan tentang papa akan selalu hidup di dalam hati. Kami hanya akan memeluknya dengan Al Fatihah dan doa-doa sekarang. Semoga Allah menempatkan papa di tempat yang mulia di sisiNya.
 

Simply Dini Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template and web hosting